#rumpiratjun Masker Komedo Skin 1004 / skin angle

Moon maap, yang step 1 keburu kebuang

Berhubung gw masih dalam fase “puber masker”, jadilah gw penasaran dengan si masker skin angle ini. Menarikkknyaahh pemirsah, masker ini memiliki 3 tahap pembersihan komedo, apa aja ciyn?

  • Step 1 : Pembukaan pori-pori
Gw makenya sebelum mandi yes

Pada step awal ini, maskernya tipis dan basah. Gw yg memiliki kulit sensitif tidak merasakan hal-hal aneh ketik pemakaian produk ini. Cuma, enggg pori-pori gw sedikit lebih lebar dan komedo gw mendadak jabrik. Untuk kandungannya, gw gak terlalu memahami karena informasi di kemasan masker menggunakan bahasa korea yang akupun tidak mengerti. So, far di gw cocok, berarti aman #bestconclusion.

  • Step 2 : Penarikan komedo
Biasanya gw maskeran sambil sarapan

Ini mirip seperti masker komedo pada umumnya. Penggunaannya pun sama, hidung di basuh air lalu ditempelkan. Sekitar 20 menit gw cabut dan voilaaaa komedo jabrikku tertempel. Sayangnya, tidak semua komedo tercabut hikss. Tapi tidak menimbulkan bekas lengkat di hidung., berbeda dengan masker komedo yang itutu…

  • Step 3 : Cooling alias pendinginan atau penutupan pori-pori

Mask terakhir agak tebal. Fungsinya sebagai pendingin untuk menutup pori. Entahlah, gw kesulitan untuk merapihkan masker yang nempel di hidup gw. Mungkin karena masknya agak tebal, jadi agak sulit diatur. Oh iya, kemerahan karena komedo yang tertarik tadi menjadi hilang dan hidung gw halusss.

Kesimpulannya :

  1. Komedo tidak sepenuhnya tertarik
  2. Tidak ada kemerahan pada hidup / iritasi
  3. Bagian yang lengket untuk menarik komedo sama sekali tidak berbekas di kulit
  4. Wanginya menennagkan
  5. Essencenya banyak

#imbegood Everyday is holiday? – Idealis vs Realita tinggal di Bali

“Bisa ke pantai setiap hari atau ke tempat wisata lainnya. Pokoknya everyday is holiday”

Tahun 2017 tepatnya di bulan Juni, gw memutuskan pindah ke Bali. Selain karena mengikuti orang tua yang telah pensiun, kepindahan gw ke Bali dikarenakan harus menjalani ibadah menikah. Worry gak? pasti! Memulai hidup baru dengan teman-teman baru, lingkungan kerja baru dan status baru itu gak mudah. Catet yes, enggakk mudahhh #engap.

But, it only lasts few months. Selama beberapa bulan, temen gw adalah suami, orang tua, temen-temen kantor dan temen-temen suami. Gw ngerasa kesepian ketika ingin berjulid-julid ria sedangkan i have nobody to share.

Dua hari yang lalu, gw melemparkan sebuah pertanyaan ke follower gw“kalau lo dikasih kesempatan tinggal di Bali, apa ekspektasi kalian?”

And guess whaatt, follower gw menjawab hal-hal yang ada di kepala gw. Ternyata kita samaaa huff. Yuk kita kupassss secara tajam…

  • Everyday is holiday vs Everyday is work-day

Siapa sih yang kalau denger “Bali” gak pengen liburan? Akutu juga mauu gaes. Untuk sebagian wisatawan, Bali si pulau eksotis selalu menawarkan cerita seru sesuai dengan mood kamu hari ini. Kalau kamu ingin healing dan honeymoon, Ubud adalah lokasi yang passs dan dijamin nagih untuk kembali ke Bali.

Nyatanya bagi seseorang yang menjadikan Bali sebagai tempat tinggal, setiap hari ya bekerja. Sama kok seperti di Ibukota tercinta, tapi tetep ada bedanya. Gw sering banget datang ke lokasi meeting beberapa jam lebih awal. Biasanya gw suka eksplor cafe/tempat makan yang belum gw coba, sekedar minum es kelapa di pantai atau mengunjungi tempat wisata yang kebetulan dekat dengan tempat meeting. Kalau dilihat, slogan Everyday is holiday gak sepenuhnya salah, kok, kembali lagi ke konsep awal jika holiday needs money, betul?

  • Dapet jodoh bule
Ini buleku, mana bulemu

Nah ini, beberapa temen gw yang terlalu niat, memutuskan pindah ke Bali hanya untuk mencari pasangan bule. Padahal, kenyataannyaaa, gak sembarang bule bisa di seriusin, loh.

Setiap daerah di Bali, memiliki karakteristik bule tersendiri, misalnya daerah kuta biasanya ditinggali oleh wisatawan asing yang hobi backpacker-an dengan low budget. Kuta juga menawarkan banyak tempat hiburan seperti beach club yang lagi hits. Nah, kebayangkan, kalau ke kuta akan dapet bule seperti apa?

Tapi, beda lagi dengan Canggu. Karakteristik wisatawan asing yang tinggal Canggu, biasanya senang dengan sesuatu yang private dan istilah bule kantoran karena canggu punya banyak co-working space. Co-work space biasanya digunakan para para pekerja asing maupun freelance lokal.

Beda lagi dengan Ubud. Karakteristik wisatawan yang memilih stay di Ubud adalah wisatawan yang senang berolahraga, ketenangan, alam dan biasanya tidak memiliki agenda liburan khusus yang membutuhkan waktu lama untuk berkeliling Bali. Mereka menikmati suasana di penginapan maupun kegiatan di penginapan.

Tapi, itu semua hanya sebagian penilaian orang-orang, kok. Hanya beberapa persen kebenaran dari penilaian tersebut. Sekarang tergantung Anda, mau jodoh “bule” seperti apa?

  • Ke pantai setiap hari

“Kalau di Bali, kepeleset dikit sampai ke pantai” kata netijen budiman. Gak sepenuhnya salah sih. Gw gak perlulah ya mention pantai apa yang ada di Bali, toh netijen jauh lebih update daripada gw.

Awal tinggal di Bali, hampir setiap hari gw ke pantai di malam hari. Menikmati suara ombak, angin sepoi-sepoi sambil makan jagung bakar itu gak ada yang ngalahin, tjoy. Lo cukup bayar Rp 1.000 untuk biaya parkir dan Rp 5.000 untuk jagung bakar, lo udah mendapatkan “me time” yang super berkualitas.

Bagi masyarakat Bali, pantai di jadikan sebagai tempat melukat atau pembersihan diri. Dengan mandi di pantai, dipercaya mampu membersihkan segala penyakit medis maupun non medis. Nah kalau weekend, gw sering (nemenin suami) mandi di pantai bareng sama Naca #wwkkw.

  • Jago bahasa inggris

Sejak di Bali, suka gak suka, mau gak mau, harus banget belajar bahasa inggris, karena client yang di hadapi tidak hanya orang lokal, namun orang interlokal (#enggimana?)

Banyak pekerja asing yang memiliki usaha atau bekerja di Bali. Sejauh apapun lo menghindari si bule ini, kelak akan tetap bertemu #CURHAT.

Jadi, lo akan jago pada waktunya, gengks.

  • Sunny day all the time

Jujur, selama di bali, kulit gw terlihat lebih gelap, tapi kulit wajah jauh lebih mulus. Tau gak kenapa? karena di Bali sesungguhnya memang panas tapi minim polusi. Panas di Bali terjadi karena laut yang mengelilingi pulau. Bagi masyarakat Bali, menjaga alam adalah suatu amanah yang wajib dijalankan turun temurun. Mereka sangat menghargai para lelulur dan alam semesta ini. Beruntungah gw yang hidup di antara alam yang segar dan jiwa-jiwa masyarakat yang tenang dan penuh toleransi.

By the way, meksipun Bali panas, tapi bagi para gadis Bali panas itu eksotis. Mereka tetep naik motor pake celana pendek atau hot pants yang ditutupi dengan kain pantai. Jago gak tuh? Gw kalo naik motor harus banget pake jaket, kaos kaki dan sarung tangan.

  • Bebas macet

NAH INI HIGHLIGHT BANGET. Satu jam perjalanan gw di Bali itu bener-bener satu jam perjalanan karena jauhnya. Berbeda dengan Ibukota tercinta, yang satu jam perjalanan untuk jarak tempuh 15 menit. Sesungguhnya, ini lebih kejam daripada Fernando yang mencampakan Rosalinda begitu saja~~

Ada beberapa area yang terkenal macet namun hanya untuk waktu dan musim tertentu. Kuta, Ubud, Seminyak adalah area yang terkenal macet. Ketiga lokasi itu menjadi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, ketiga area tersebut memiliki akses jalan kendaraan yang terbagi oleh area pejalan kaki dan parkir kendaraan, menjadikan area tersebut hanya memiliki akses jalan yang cukup untuk 1 kendaraan saja. Inilah yang menimbulkan kemacetan.

Beberapa penyebab kemacetan di Bali seperti jam pulang kantor, traffic light, area wisatawan, upacara yang menggunakan separuh akses jalan kendaraan, kedatangan presiden, dan sudah itu aja genks karena aku selalu lewat jalan tikus yang gak macet.

  • Buah dan sayur murah

Bali adalah kota seribu upacara dan kebutuhan utama akan upacara ada bunga dan buah. Jadi, harga buah di Bali cukup fluktuatif. Menjelang hari raya, harga buah akan super melejitttt, namun beberapa hari setelah upacara akan kembali normal.

Saya sangat bersyukur di Bali mudah untuk menemukan sayuran organik dan hidroponik. Sebagaian orang memilih untuk membangun usaha ini sehingga konsumen dapat memilih atau bahkan datang langsung ke kebunnya untuk membeli sayuran. Tentunya dengan akses jalan yang tidak macet hehe…

  • Lebih sering ajak anak ke alam

Terfavoritttt dari semuanya adalaahhh Bali punya banyak tempat yang ramah untuk anak-anak bermain di Alam. Ada pantai, sawah, gunung, air terjun dan lainnyaaa, yang bisa dinikmati bersama si kecil. Tentunya dengan jarak tempuh yang tidak jauh dan biaya yang tidak mahal, kesukaan para ibu-ibu #murahmeriah.

  • Always motoran

Meakipun Bali terkenal fanas, tapi itu gak menyurutkan gw untuk bermotoran syelalu~~Bukan karena gw gak mampu buat beli mobil #koksombong, melainkan karena Bali adalah kota yang nyaman untuk di eksplor dengan motor. Anti macet dan super selap selip, menjadi motor sebagai sahabat setia para wisatawan. Sayangkan, kalau kita pergi ke tempat wisata yang sejuk tapi seluruh tubuh kita tidak merasakan kesejukan itu?

  • Syurga belanja

Kalau dulu, tanah abang menjadi syurga belanja, sekarang ada Bali yang dimana-mana tempat be-lan-ja! Dan penyakit wanita suka kampuh dikala melihat daster, blouse dan teman seperjuangannya di jual dengan harga murah. Jadi, keinginan untuk membeli barang branded musnah ketika gw memiliki pilihan lain untuk membeli pakaian dengan harga lebih murah dan kualitas yang mirip.

Nah itu tadi Ekspektasi vs Realitas yang gw alami selama gw tinggal di Bali. Ini versi gw, belum tentu versi orang lain sama. Setiap orang memiliki cara berfikir dan menikmati hidup yang berbeda. Intinya, nikmati apa yang didepan mata sebelum semuanya hilang, betul?

#iambegood WORKING MOM LYFE – Pumping Antimainstream

Sudah hampir 10 bulan, gw menjalani WMP Lyfe alias Working Mom Pumping lyfe. Nah bingung kan. Sebagai karyawan yang lebih sering menghabiskan waktu meeting di luar, waktu buat pumping itu sangat sangat challenging. Gw perlu nyari tempat yang proper, bersih dan aman dari para mata-mata buaya daratan (read : khalayak). Bahkan gak jarang, gw izin buat pumping di mobil kantor ditengah-tengah seminar, dikamar mandi, di klinik sampai pumping.pas meeting. Segitunya usahanya? iyesss.

Morning Routine Working Mom Pumping Lyfe

Pukul 03.00 jadwal gw power pumping, lanjut pukul 06.00 pumping pagi sebelum akhirnya bikin sarapan buat suami, nyuci perabot mompa, mandi dan bersiap kekantor. Oh iya, cooler bag udah jadi sahabat terbarukan hidup gw sejak 10 bulan terakhir. Berat? Mayan. Satu tas ransel komplit sama alat perang seperti laptop+charger, mesin pompa+charger, apron, HP, dompet, peralatan lenong+parfum, kantong ASI, air minum, vitamin dan masih banyak lagi. Jadi kalau gw tiba-tiba stunting, ya you know-lah sebabnya…

Pukul 09.00 sampai kantor lanjut pumping sembari nonton youtube buat meningkatkaan mood. Setelah 30 menit, gw lanjut kerjaaa dan pastinya harus ngemil!!! Habis pumping itu berasa gak makan dua bulan…sedih akutuu. Pukul 12.30, jadwal pumping siang yang dilanjutkan pukul 15.00 dan terakhir pukul 17.00 sebelum pulang. Sampai rumah kembali ke dapur, menyiapkan makan malam, mandi, dan lanjut pumping. Begitu setiap hari~~

Kalau dilihat teorinya mudah, NYATANYA ketika di lapangan gak jarang kalau jadwal pumping berubah total. Pernah satu hari gw cuma bisa pumping satuuuu kali! Dan ini terjadi 5 hari berturut-turut, menyebabkan ASI di freezer habis dan kuantitas ASI perah gw menurun.

Kalau sudah begini, apa SUSU FORMULA menjadi penyelamat? tentuu tidakk.

Satu-satunya penyelamat adalah gw harus kembaliiii memulai menaikan kuantitas ASI dengan jadwal power pumping tengah malem yaitu setiap per satu jam pumping dengan durasi minimal 10 menit untuk satu kalo pumping selama 10 jam (dari jam 5 sore sampai jam 3 subuh) lamanya selama 14 hari.

Apakah kuantitas ASI langsung naik? IYA. Ini ngefek asalkan mommy konsisten yess.

Perlu ASI booster? tergantung, kalau gw lebih perlu makanan sih.

Apakah pompanya harus elektrik? terserahhh enaknya bagaimana. Gw sih biar cepet jadi pake elektrik, shay.

Nah, kalau sudah tau perjuangan working mom juga gak kalah sama para full time mommy, berarti gak ada istilah working mom menomor duakan keluarga, kan. Buat gw, dimana pun gw berada baik di kantor, di rumah dan di kasur (ehemmm) tetap punya tanggung jawab. Ada hak suami dan anak yang perlu dipenuhi dan ada hak management untuk menilai kinerja gw.

Buat para mommy, kamu berhak memilih untuk memberikan ASI maupun susu formula. Setiap pilihan ada perjuangan dan konsekuensinya, namun percayalah apa yang terjadi secara alami dan diberikan langsung oleh Sang Pencipta, pasti lebih baik. Selamat Meng-ASI-hi para netijen budiman. Kalau lelah, bosan dan jenuh, ingatlah jika ini tidak berlangsung lama, HANYA 2 TAHUN.

Pumping di pantai

Lalu, bagaimana perjalanan meng-ASI-hi, Mommy? Yuk sharing bersama Ibu-Ibu cerdas karena #serujangansendirisendiri.

#iambegood Bercerita Melalui Aplikasi Perjodohan (Tinder)

Tahannn, hayoo, jangan bully akuh yang dapet jodoh dari aplikasi perjodohan wkwk. Gw cerita sedikit yes…

Sebentar lagi, ruangan kaca di Bandar Udara Soekarno Hatta akan terlihat asing bahkan istimewa buatku. 18 Tahun berada di Ibu Kota membuat gw cukup mengenal sosok Jakarta yang sangat dicintai ini. Kepindahan ke Bali adalah keputusan besar yang gw buat dalam hidup. Tak pernah mengerti “mengapa”, tapi hati ini nampak sangat ringan dan medukung kepergianku dari Ibu Kota.

Oia, di tahun 2017 in juga menjadi tahun penuh kejutan buatku. Selain hampir putus asa karena target menikah di usia 25 tahun hampir tak mungkin. Yap, gw bertemu dengan seseorang yang tidak terduga, menjadi awal titik balik hidup ini. Siapa sangka, jika waktu kala itu bersengkongkol dengan semesta. Tidak ada yang menduga, jika waktu yang selama ini memberiku pelajaran.

Febuari 2017, kedua orang tuaku memutuskan untuk pindah dan menetap di Bali, “ingin menghabiskan masa tua”, katanya. Gw diminta untuk ikut tapi kala itu masih berat dengan berbagai pertimbangan mulai dari pekerjaan, lingkungan sampai ke masalah pribadi, yang ketika itu gw masih punya pacar tapi hubungan itu tidak berjalan harmonis, antara putus atau tidak.

Mei 2017, akhirnyaaa aku mencoba mencari lowongan kerja melalui Jobstreet untuk penempatan Bali. Selang beberapa waktu, gw ditelfon dari pihak HRD salah satu media besar di Jakarta, mengundang interview di Bali untuk penempatan disana. Langsung pesen tiket dan besoknya berangkaaaattt. Tepat hari Selasa interview, sorenya gw harus pulang ke Jakarta karena harus kembali kerja esok harinya.

Namun, penerbangan soreku kali ini ternyata delayed. Kebayang kan, capeknya habis interview dan besok harus kerja! Entah apa yang ada dalam pikiranku pada saat itu, aku men-download TINDER!!!!And suprisingly, aku merasa gak pernah like sama laki-laki ini sama sekali. Sampai pada sebuah pesan muncul…


and we never know if that beginning becomes an end forever

Sabtu di bulan Juni 2017, pertemuan sore yang mengesankan. Laki-laki bertubuh tegap, berbaju kaos hitam menghampiri gw yang sedang mengantri makanan siap saji sebelum akhirnya menemukan dia yang sedari tadi sudah duduk di smoking area disana.

“Padahal dia bisa sampaikan lewat chat, kenapa juga harus nyamperin.” pikirku dingin.

Gw memesan ice choclate dan kentang goreng dan menyambutku dengan senyuman cerah dengan seluruh barisan gigi nya terlihat. Untuk seukuran laki-laki, dia cukup manis, barisan gigi yang rapih, dan senyuman yang sangat manis itu.

Gw cukup terkejut ketika dia menukar ice chocolate-ku dengan hot tea miliknya.

“Kayaknya kamu lebih cocok minum ini deh, soalnya daritadi kamu batuk”.

“hmm….Oke” jawabku dingin tapi aku terkesan.

dan 3 jam membuat kita tak sadar sudah terlarut dalam berbagai jenis cerita didalamnya. Sejak pertemuan itu, semua menjadi beda, beda pokoknya…

Juli 2017, Kedekatan Kami terus berlanjut meskipun harus LDR Jakarta-Bali sebelum akhirnya gw pindah. Kami juga bukan orang yang romantis, manis ala-ala remaja unyu. Sebagian komunikasi Kami dihabiskan untuk membicarakan hal-hal penting termasuk soal pekerjaan atau sharing hal-hal menarik yang baru saja dialami.

Di bulan ini juga, ia menanyakan tujuan dari kedekatan kita. Sejak awal, aku sudah berkomitmen untuk tidak mau berpacaran. Buatku, 3x gagal dalam sebuah hubungan sudah cukup dan tidak akan ada ke-empat-kalinya. Bagi sebagian laki-laki mungkin ini agak menakutkan dan mengekang, namun tidak untuk dia yang justru menanggapi positif hal ini.

Di bulan Juli, ia memberanikan diri mengajak gw untuk menikaaah, memberanikan diri untuk meminta langsung kepada orangtuaku yang kala itu sedang berada di Bali. Jeng jeng jengggg…. Pertemuan kedua orang tua beserta kerabat dekat pun terlaksana tanpa diriku yang masih harus berjuang di Jakarta. dan lagi-lagi, semuanya berjalan diluar perkiraan. Kalau ternyata jodoh semudah ini, buat apa dulu gw pacaran lama-lama sampai jungkir balik mempertahankan cinta yang tidak mendapatkan restu ya….

Oktober 2017, tepat di tanggal 26, Kami menikah.

Apa yang kita alami sebelum menikah? banyaaakkk tapi tidak ada perselisihan seperti yang banyak dialami para pasangan menuju pernikahan.

Sampai pada hari Hnya tiba, aku cuma berucap satu :

“Tuhan, Engkau jabah doaku yang hampir aku kira tak mungkin dengan cara yang menabjubkan. Engkau angkat aku ketika aku hampir menyerah setelah bertahun-tahun berjuang bangkit. Akan banyak hal-hal yang akan membuatku takjub karena-Mu. Izinkan aku menjalani satu dari sekian banyak keajaiban lain yang setelah ini akan aku jalani bersama laki-laki yang Engkau pilihkan untukku”.

Sampai saat ini pun 2018,

  • Kami masih suka gak percaya, kalau berawal dari sapaan di TINDER, menjadi sebuah jalan untuk Kami menemukan pemberhentian terakhir.
  • Gw gak pernah nyangka, dibalik mudahnya “pindah” ke Bali, nyatanya Tuhan sudah kasih Bali sebagai jalan hidupku.
  • Kalau gak delayed mana mungkin aku terfikir untuk download TINDER .
  • Well, saat ini pemikiranku mengenai hal yang tidak aku percaya berubah menjadi sesuatu hal yang mungkin. Soal jodoh dan rezeki, kadang kita hanya perlu melihat lebih banyak, berusaha lebih sering dan berubah tanpa henti. Terima kasih SEMESTA!

#rumpisehat MINUM JUS BUAH BISA KURUS? – DIY Jus Sehat

Siapa yang tahu, apa cita-cita seluruh wanita di dunia? LANGSINGGG. Iya betul. Selamat kamu dapat seratus ciki.

Sejak tahun 2017, gw banting stir untuk persoalan lifestyle. Eits, gak sembarang banting stir shay. Gw berhenti makan junk food, seafood, mie instant, coklat, kacang yang digoreng dan bakso yang gak gw bikin sendiri. Susah gak? BANGET! Apalagi kalo di ajak meeting di luar sama client dan ditawarin makan udang, cumi, dan eng…banyak lainnya tapi tauuu kalau abis makan itu akan jadi kayak apa.

Hal pertama yang gw ubah adalah mulai minum jus sayur dan buah sebelum makan nasi di pagi hari. Ini bukan pertama kalinya gw minum jus di pagi hari. Dulu ketika berat badan gw masih 60 kilo, setiap hari nyokap nyodorin jus buah sayur sebagai pengganti sarapan atau makan malam. Suka suka doi mau bikinnya kapan, tugas gw tinggal nelen, gitu katanya. Enam bulan berlalu dan berat badan gw turun dan setaun pun menjadi 48 kilo. Eh hellaoo, jangan dipikir hanya jus sajah yang diminum terus langsung kurus, tapi olahraga setengah jam sehari dan JAGA POLA MAKAN. Inget, sesuatu yang sehat gak ada yang instan, kalau instan sudah pasti gak sehat.

9 Bulan yang lalu gw hamil dengan kenaikan 10 kilo dan dalam kurun waktu 6 bulan berat badan kembali normal dengan penurunan 8 kilo. Masih dengan jus buah dan sayur ini aja kok. Urusan ke belakang lancar, kulit badan gak kering, kulit wajah gak gampang jerawatan dan kondisi tubuh fit.

Buat gw, menjaga gaya hidup dan pola makan bukan cuma sekedar trend atau ingin diakui cantik, melainkan lebih kepada menghargai diri dengan menjaga apa yang sudah diberikan Tuhan. Ketika lahir, tubuh ini sempurna tanpa kurang apapun, namun semakin dewasa yang seharusnya kita mengerti cara menghargai diri malah mengabaikan itu, sedih gak sih. Selain itu, keinginan melihat banyak moment menarik dalam hidup ini, mendorong gw untuk menanamkan dipikiran kalau hidup sehat itu WAJIB, gak pake DITAWAR.

Apa dengan menjaga pola hidup sehat berati kita gak sakit? Ini mirip seperti “Apakah dengan kita minum berarti kita tidak akan haus?”.

Ingat lagi, tujuan menjaga gaya hidup dan pola makan adalah sebagian dari usaha menjaga tubuh beserta organ yang ada didalamya. Kalau dalam usaha terdapat hasil yang tidak sesuai ekspektasi, kembali lagi kepada Sang Maha Kuasa yang punya andil dalam hidup ini. Setidaknya, kita sudah mencintai tubuh yang sudah menemani kita bertahun-tahun namanya, bukan?

Yuk sampaikan #terimakasihtubuh untuk lebih menghargai tubuh ini sebagai penghargaan ke diri sendiri agar lebih mencintai dan menjaganya.

Jus buah apa aja yang biasa gw minum? taraaa….jawabannya yang ada di kulkas. Sehat itu simpel, kok.

#rumpiratjun EYE MASK SOLUSI DARK CIRCLE? – Firming Eye Mask by Guardian

Bukan rahasia umum lagi kalau yang namanya ibu-ibu baru melahirkan pasti begadang, betul? Gak tanggung-tanggung, 6 bulan fase begadangnya -_-. Syukurnya, momin sudah melewati fase itu tapiiii sisa mata pandanya masih ada hiksss.

Jadi, udah biasa kalau ada yang bilang “Dhis, kantong matamu kayak kantong belanja bulanan” atau “Kantong mata atau kebakaran hutan, Dhis. item banget”. Sedih akutu…

Beberapa minggu yang lalu, momin ke Guardian. Gw udah wanti-wanti dalam hati, kalo kesini bisa khilaf dan keluar-toko-mewek. “Pokoknya gw beli masker aja”, iya masker aja tapi masker segala macem dibeli *tuhkan!

Aku tertarik buat nyoba Firming Eye Mask by Guardian – Rp 13.500 dan gw norak alias baru tau kalau eye mask hanya dipakai di bawah mata ajaaa. *okesip

Kesimpulannya setelah 2x pemakaian :

  1. Di sudut mataku sering banget ada kulit kering dan agak kerut padahal belum 30. Sejauh ini sih ini membantu pekerjaan “eye cream” dalam megencangkan dan menghilangkan kerut.
  2. Dark circle berkuraangggg. Tapi kembali lagi pada pola tidur ya.
  3. Tidak ada garis-garis di kulit bawah mata.
  4. Kulit menjadi lembab dan segar
  5. Pemakaian foundation pun aman dan tidak ada crack.

Yuk Mommaaa jangan lupa selalu share ya eye mask apa sih yang dipakai, biar #serujangansendirisendiri

#rumpiratjun WAJAH GLOWING DALAM 2 MINGGU – April Skincare (The Body Shop ALOE)

Momin mau ceritaaaa soal kegalauan wajah yang berkomedo, berpori-pori dan berjerawattt hilang dalam DUA MINGGU!!!

Jadi, bulan Maret itu momin sempet galau berat, kalah pokoknya milea nahan rindu gak seberat momin. Pas ngaca, eh kok muka eik pori-porinya segede tagihan awal bulan, jerawatnya macam lagi demo dan komedonya nongol kayak ibu-ibu yang pada kepo. Setres momin. Padahal udah jaga makan, minum jus setiap hari dan gak lupa makan sayur.

Baru inget kalo gak make skincare sejak dua bulanan dan terakhir cuma pakai facial wash dan serum dari Safi. Setelah melihat beberapa skincare, akhirnya pilihanku jatuh kepada The Body Shop Aloe For Sensitive Skin. Kebetulan lagi diskon, jadilah eik makin syenang…

Momin mau ngasih review penggunaanya ya. Yuk mari ngerumpi…

  1. The Body Shop ALOE Calming Foaming Wash – Rp 169.000

Bukan yang pertama momin pake skincare The Body Shop. Kalau sebelumnya, momin pakai yang Tea Tree Series, kali ini pakai ALOE. Kesan pertama wanginya bener-bener menenangkan dan suka sama bentuk facial wash yang foam kayak gini. Cukup sekali pump, gak perlu ditambah banyak air dan gak perlu di kucek-kucek di tangan terlalu lama. Setelah pemakaian kulit lembab bangettt, kenyal, gak keset alias masih ada licin-licinnya, tapi momin suka yang kayak gini karena kesannya lebih lembab ajah.

2. The Body Shop ALOE Calming Toner – Rp 189.000

Setelah cuci muka, momin biasa pakai toner ALOE ini. Cukup 4 tetes di kapas terus di pukpuk di seluruh wajah. Gunanya toner ini untuk mengembalikan kembali PH kulit wajah setelah cuci muka tadi. Wanginya sama seperti foaming washnya. Gak bikin perih walaupun ada jerawat atau komedo yang baru kekopek. Penggunaan yang rutin buat kulit wajahku kenyal dan minyak diwajah bener-bener berkurang.

3. The Body Shop ALOE Day Cream & Night Cream – Rp 209.000 & Rp 239.000

Setelah pakai toner, aku lanjut pakai day cream untuk pagi hari dan night cream untuk malam hari. Nah ini amunisi pelengkap, kenapaaa pelengkap? karena setelah pakai ini ya gak pake apa-apa lagi dan ini adalah pembuat muka glowing dan lembab. Kalau night cream aku pakai lebih tebal karena diruangan AC yang cukup lama suka bikin kulit kering dan day cream kupakai tipis aja soalnya momin tambahin sunscream lagi, takut-takut disuruh meeting keluar jadi kudu well prepare, kan..

Berikut foto pemakaian 2 minggu

Kesimpulan penggunaan setelah 1 bulan :

  1. Sebelum penggunaan skincare, momin facial terlebih dahulu untuk membersihkan komedo dan kulit mati, agar skincare dapat meresap maksimal. Penggunaan dalam 2 minggu, wajah menjadi glowing dan kenyaall. SUNGGUH!!
  2. Pori-pori mengecillll dan berkurang. Untuk eik yang keturunan pori-pori besar, tidak mungkin menghilangkan pori-pori, mengecil dan berkurang saja eik sudah bahagia.
  3. Wajah gak gampang berminyak. Kalau pagi cuci muka dan kondisi full diruangan ber-AC, kira-kira jam 4 sore baru keliatan agak berminyaknya. Kalau diluar ruangan lebih cepat 1 jam setelah aku coba.
  4. Pemakain bb cream atau foudation jadi tidak crack di wajah. Menyatuuuuu
  5. Lebih ceraahhh. Gak tau deh The body Shop Aloe ini ada efek mencerahkannya atau tidak, tapi wajah keliatan lebih cerah. Jadi jarang banget momin dandan lagi, cukup pakai lisptik, alis dan maskara sajah kekantor. Praktiss
  6. Hasil setiap orang akan berbeda, kenali jenis kulit masing-masing agar hasil maksimal.
  7. Untuk hasil maksimal pun dibutuhkan konsisten perawatan, menjaga pola makan, tambahan masker dan eksfoliasi kulit mati, agar skincare meresap maksimal.

Demikian #rumpiratjun dari momin. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba. Jangan lupa share skincare favorit moma ya biar #serujangansendirisendiri

#rumpiratjun SHEET MASK KOREA – April Favo

Halohaaa Moms, hari ini gw mau ngerumpiin masker korea yang gw pakai di bulan April. Buat gw, maskeran adalah “me time” terbaik setelah lelah bekerja atau ngurusin si baby Naca seharian penuh. Sebelumnya, gw ngeremehin banget manfaat masker, tapi bulan April ini mau bertekad untuk ngerawat kulit sebelum memasuki gerbang usia angka tiga (OH…NOO).

Jadwal maskeran gw seminggu 2 atau 3 hari sekali. Sebelum maskeran, gw terbiasa untuk eksfoliasi atau pengelupasan kulit mati dengan menggunakan scrub. Nah kalo eksfoliasi seminggu cuma 2 kali adjah yah, biar kulit manjya kita gak tipis shay. Setelah eksfoliat (bahasa singkatnya), gw lanjut cuci muka pakai facial foam dan lanjut maskeran yang gw taroh di kulkas. Kebayang kan ademmnyahhh. nyes nyes gregess…. Etapi jangan ditinggal bobok ya, cukup 15-20 menit aja.

Kali ini gw mau review 5 masker korea yang eiyk pake selama bulan april. Cusss RUMPI ya …

Nuface Gold Cocoan, Faceshop Kelp & Bamboo, Happymasj Aloe & Berries
  • Nuface Gold Cocoan – Rp 20.000

Buat muka gw yang sempit alias kecil, maskernya tetep kebesaran. tapi essencenya banyak jadi bisa dipakai sebagai serum untuk besok paginya. Meskipun banyak, tapi gak sampe netes-netes dileher kok dan gak lengket.

Sheetnya gak terlalu tebal dan ngasih efek yang super adem dikulit (apalagi kalau ditaroh dikulkas). Pemakaian kurang lebih 20 menit dan cepat meresap sampai sheetnya agak kering. Setelah pemakaian wajah lembab sampai beberapa hari, moist, lumayan mencerahkan kalau pemakaian teratur

  • Faceshop Kelp & bamboo – Rp 25.000 (buy 1 get 1)

Untuk faceshop yang gw suka adalah sheetnya tipis jadi terlihat seperti nyatu sama kulit wajah. Essencenya banyak cuma pas dipake netes gitu ke leher, jadi kudu maskeran sambil ngipasin biar essencenya gak menggelitik leher. Essencenya menyerupai air jadi cepat meresap. Hasil pemakaian sih standar, cuma keliatan lebih moist aja. Dari 2 varian yang gw coba, belum ada hasil signifikan yang berbeda. So far, perbedaan hanya di aroma maskernya aja.

  • Happy Mask Aoe & Berries – Rp 25.000

Pertama kali beli sheet mask ini karena lagi diskon di Guardian. Kali ini sheetnya tebel, kayak pake tisu makan dibasahin. Essencenya sedikit jadi gak bisa ditabur-tabur ke masker yang sudah ditempel diwajah. Hasil akhir pemakaian seger, moist, pori-pori mengecil namun belum bisa kasih perbedaan yang berarti.

Kesimpulannya menurut eik,

  1. Semakin tipis sheetnya, semakin lembab wajah kita. Essence yang menempel di sheetnya akan maksimal meresap ke wajah, dibandingkan sheetnya yang tebel karena essence.akan banyak meresap di sheetnya.
  2. Kembali lagi kepada selera masing-masing, ada yang lebih suka banyak essencenya dan ada juga yang lebih suka sedikit.
  3. kebanyakan sheet mask akan ngasih efek moist dan glowing ke wajah, namun tetep perlu perawatan toner, cream dan serum ya.
  4. untuk wajah yang berjerawat lumayan parah, penggunaan masker seperti ini perlu dipertimbangkan. Kalau gw dulu waktu masih berjerawat parah pake masker bubuk yang dioles pake kuas soalnya cepet ngeringin jerawat.
  5. Carilah diskon sebanyak-banyaknya biar bisa ngoleksi lebih banyak masker (wajib)

Sekian review dari momin. Nantikan review tentang produk kecantikan, kesehatan dan pareting lainnya. Yuk share masker favorit kamu dirumah biar #serujangansendirisendiri

#rumpiinwong EPISODE 1 – Bully Membawaku Sukses

“Bukan tentang satu orang aja yang pengen bikin cerita bagus, tapi tentang satu tim yang pengen bikin cerita yang lebih bermakna”

Diva Apresya – Story Teller

Ini bukan persoalan pembuktian kepada khalayak mengenai sosok yang selalu menjadi korban body shamming sejak SD, tetapi lebih kepada menerima, mencintai dan menjadi bermakna melalui diri ini, dengan segala kelebihannya yang sudah Tuhan berikan. Diva kerap kali menjadi korban bully teman-temannya di sekolah dan mentertawakan tubuhnya yang lebih besar dari teman seusianya.

Pernah berimimpi buat jadi actress ketika SMA dan mendapat tanggapan kurang menyenangkan dari sebagian orang termasuk ibu sendiri, tidak membuat Diva Apresya murung dan putus asa. “Mereka khawatir kalau gw hanya jadi lelucon di industri entertaiment karena tubuh gw yang subur” ungkapnya ramah. Sejak itulah, mimpi menjadi actress pun terpendam. Namun, awal 2019, mimpinya menjadi actress pun sedikit terwujud berkat penampilannya dalam film layar lebar Keluarga Cemara dan berhasil bermain dalam satu scene yang cukup panjanggg.

“Herannya, mereka memuji akting gw dan gak mempermasalahkan bentuk tubuh gw di layar”. Diva mampu membuktikan jika ketakutan dia selama ini tidak terbukti. “Gw takut orag-orang akan menertawakan atau bahkan kembali membully gw yang tampil di film itu”. Pencapaian terbesarnya saat ini adalah berhasil mengatasi ketakutan. Ketakutan yang membuat dirinya tidak percaya diri, “And now, i’m willing to try acting again”.

Bekerja di salah satu perusahaan pengembang cerita dan bertemu tim konten yang handal, membuat bakat menulis Diva semakin terasah. “Ini cita-cita gw sejak kuliah!”. Meski lelah dan jenuh kerap kali mneghampirinya, terlebih harus menghadapi klien yang perfectionist. Bekerja di dunia kreatif memiliki tantangannya sendiri, salah satunya harus jaga ego dan mood. “Idealisme pasti ada dari masing-masing orang, tinggal gimana caranya aja kita mengolah, toh pada akhirnya ini bukan tentang satu orang aja yang pengen bikin cerita bagus, tapi tentang satu tim yang pengen bikin cerita yang lebih bermakna .”

Perlunya inspirasi tambahan membuat diva melakukan “me time” untuk merelaksasi pikiran yang penat karena deadline pekerjaan. “Gw bikin @ceritangemilsore di sela-sela bekerja di kantor”. @ceritangemilsore adalah cerita bergambar yang terinspirasi dari pengalaman pribadi, seperti kisah bersama bapak dan ibunya, body shaming, self acceptance dan pengalaman menarik lainnya yang Diva tumpahkan melalui goresan lukisannya yang penuh warna dengan konten yang menarik dan selalu ditunggu pembaca (termasuk sayaa).

“Gw gak takut gak ada yang baca, gw gak perlu mikirin klien, gw gak peduli apakah akan jadi trending. karena gw adalah klien bagi diri gw sendiri”

Hal yang paling membahagiakan adalah ketika karyanya bisa diterima banyak orang bahkan banyak yang memberikan tanggapan positif. “Pembaca gw membuat gw sadar bahwa gw gak sendiri. Mereka pun pernah ada di posisi gw. mungkin di waktu yang akan datang, ada sesuatu yang bisa dilakukan bersama”

Diva teringat kepada satu sosok yang memberikan pengaruh besar untuk dirinya yaitu ibunya, sang kritikus terpedas sekaligus pendukung terdepan buat dirinya. Meski banyak perbedaan prinsip, namun ada satu value yang ibunya ajarkan kepada dirinya yaitu menjadi perempuan mandiri, kuat, bisa diandalkan tanpa mengintimidasi orang lain. dan tentu, diri gw sendiri yang harus gw cintai.

Masih banyak mimpi Diva yang belum terwujud, salah satunya keliling duniaa sampai ke tempat terpencil yang gak orang datangi sekalipun. Banyak yang ingin ia pelajari, banyak yang ingin dia temui dan banyak yang ingin dia bagi untuk banyak orang. “@ceritangemilsore adalah bukti bahwa orang yang dulu pernah dibully mampu menjadi orang hebat yang justru merangkul orang-orang yang terbully”

Rumpi pertama, Ebok

Hello, salam kenal. Gw Adhista, ibu satu anak yang berusia menuju 29 tahun dan memiliki satu anak laki-laki berusia delapan bulan. Ebok, sapaan sok asik gw di sosial media. Saat ini gw bekerja sebagai freelance copy writer disalah satu rumah sakit ternama di Bali. Kesibukan lainnya adalah menjadi mompreneur yaitu menjual bakso. Yesss baksoooo. Makanan favorit gw!!!!

Banyak hal yang akan gw bahas di Mother Hut ini, seperti Rumpiin Wong, kisah inspirasi dari para wanita, harus wanita? yess karenaa blog ini isinya seputar wanita ya gaes!. Lalu gw akan ngerumpiin banyak ratjun ternikmat yaituuu review produk skincare, bodycare, hair care, healthy care dan apapun yang berhubungan sama “care”, akan gw kupas. Lalu ada sekmen sharing session “I’m be Good” yang mengangkat satu topik untuk diperbincangkan dan memberi perspektif berbeda. Udah itu aja? ENGGAK DONG!!!

Gw juga mau angkat sedikit review tentang Bali. Kenapa? karena gw tinggal di Bali dan perlu buat eksplor lebih soal Bali seperti travel, hotel review, food review, culture review dan banyak lagi. Ya biar ada alasan ngajak suami jalan-jalan, untuk keperluan blog #uhuy. Udah segitu aja. Mari menginspirasi bersama Mother Hut, rumpi ibu cerdas karena #serujangansendirisendiri.