#iambegood Bercerita Melalui Aplikasi Perjodohan (Tinder)

Tahannn, hayoo, jangan bully akuh yang dapet jodoh dari aplikasi perjodohan wkwk. Gw cerita sedikit yes…

Sebentar lagi, ruangan kaca di Bandar Udara Soekarno Hatta akan terlihat asing bahkan istimewa buatku. 18 Tahun berada di Ibu Kota membuat gw cukup mengenal sosok Jakarta yang sangat dicintai ini. Kepindahan ke Bali adalah keputusan besar yang gw buat dalam hidup. Tak pernah mengerti “mengapa”, tapi hati ini nampak sangat ringan dan medukung kepergianku dari Ibu Kota.

Oia, di tahun 2017 in juga menjadi tahun penuh kejutan buatku. Selain hampir putus asa karena target menikah di usia 25 tahun hampir tak mungkin. Yap, gw bertemu dengan seseorang yang tidak terduga, menjadi awal titik balik hidup ini. Siapa sangka, jika waktu kala itu bersengkongkol dengan semesta. Tidak ada yang menduga, jika waktu yang selama ini memberiku pelajaran.

Febuari 2017, kedua orang tuaku memutuskan untuk pindah dan menetap di Bali, “ingin menghabiskan masa tua”, katanya. Gw diminta untuk ikut tapi kala itu masih berat dengan berbagai pertimbangan mulai dari pekerjaan, lingkungan sampai ke masalah pribadi, yang ketika itu gw masih punya pacar tapi hubungan itu tidak berjalan harmonis, antara putus atau tidak.

Mei 2017, akhirnyaaa aku mencoba mencari lowongan kerja melalui Jobstreet untuk penempatan Bali. Selang beberapa waktu, gw ditelfon dari pihak HRD salah satu media besar di Jakarta, mengundang interview di Bali untuk penempatan disana. Langsung pesen tiket dan besoknya berangkaaaattt. Tepat hari Selasa interview, sorenya gw harus pulang ke Jakarta karena harus kembali kerja esok harinya.

Namun, penerbangan soreku kali ini ternyata delayed. Kebayang kan, capeknya habis interview dan besok harus kerja! Entah apa yang ada dalam pikiranku pada saat itu, aku men-download TINDER!!!!And suprisingly, aku merasa gak pernah like sama laki-laki ini sama sekali. Sampai pada sebuah pesan muncul…


and we never know if that beginning becomes an end forever

Sabtu di bulan Juni 2017, pertemuan sore yang mengesankan. Laki-laki bertubuh tegap, berbaju kaos hitam menghampiri gw yang sedang mengantri makanan siap saji sebelum akhirnya menemukan dia yang sedari tadi sudah duduk di smoking area disana.

“Padahal dia bisa sampaikan lewat chat, kenapa juga harus nyamperin.” pikirku dingin.

Gw memesan ice choclate dan kentang goreng dan menyambutku dengan senyuman cerah dengan seluruh barisan gigi nya terlihat. Untuk seukuran laki-laki, dia cukup manis, barisan gigi yang rapih, dan senyuman yang sangat manis itu.

Gw cukup terkejut ketika dia menukar ice chocolate-ku dengan hot tea miliknya.

“Kayaknya kamu lebih cocok minum ini deh, soalnya daritadi kamu batuk”.

“hmm….Oke” jawabku dingin tapi aku terkesan.

dan 3 jam membuat kita tak sadar sudah terlarut dalam berbagai jenis cerita didalamnya. Sejak pertemuan itu, semua menjadi beda, beda pokoknya…

Juli 2017, Kedekatan Kami terus berlanjut meskipun harus LDR Jakarta-Bali sebelum akhirnya gw pindah. Kami juga bukan orang yang romantis, manis ala-ala remaja unyu. Sebagian komunikasi Kami dihabiskan untuk membicarakan hal-hal penting termasuk soal pekerjaan atau sharing hal-hal menarik yang baru saja dialami.

Di bulan ini juga, ia menanyakan tujuan dari kedekatan kita. Sejak awal, aku sudah berkomitmen untuk tidak mau berpacaran. Buatku, 3x gagal dalam sebuah hubungan sudah cukup dan tidak akan ada ke-empat-kalinya. Bagi sebagian laki-laki mungkin ini agak menakutkan dan mengekang, namun tidak untuk dia yang justru menanggapi positif hal ini.

Di bulan Juli, ia memberanikan diri mengajak gw untuk menikaaah, memberanikan diri untuk meminta langsung kepada orangtuaku yang kala itu sedang berada di Bali. Jeng jeng jengggg…. Pertemuan kedua orang tua beserta kerabat dekat pun terlaksana tanpa diriku yang masih harus berjuang di Jakarta. dan lagi-lagi, semuanya berjalan diluar perkiraan. Kalau ternyata jodoh semudah ini, buat apa dulu gw pacaran lama-lama sampai jungkir balik mempertahankan cinta yang tidak mendapatkan restu ya….

Oktober 2017, tepat di tanggal 26, Kami menikah.

Apa yang kita alami sebelum menikah? banyaaakkk tapi tidak ada perselisihan seperti yang banyak dialami para pasangan menuju pernikahan.

Sampai pada hari Hnya tiba, aku cuma berucap satu :

“Tuhan, Engkau jabah doaku yang hampir aku kira tak mungkin dengan cara yang menabjubkan. Engkau angkat aku ketika aku hampir menyerah setelah bertahun-tahun berjuang bangkit. Akan banyak hal-hal yang akan membuatku takjub karena-Mu. Izinkan aku menjalani satu dari sekian banyak keajaiban lain yang setelah ini akan aku jalani bersama laki-laki yang Engkau pilihkan untukku”.

Sampai saat ini pun 2018,

  • Kami masih suka gak percaya, kalau berawal dari sapaan di TINDER, menjadi sebuah jalan untuk Kami menemukan pemberhentian terakhir.
  • Gw gak pernah nyangka, dibalik mudahnya “pindah” ke Bali, nyatanya Tuhan sudah kasih Bali sebagai jalan hidupku.
  • Kalau gak delayed mana mungkin aku terfikir untuk download TINDER .
  • Well, saat ini pemikiranku mengenai hal yang tidak aku percaya berubah menjadi sesuatu hal yang mungkin. Soal jodoh dan rezeki, kadang kita hanya perlu melihat lebih banyak, berusaha lebih sering dan berubah tanpa henti. Terima kasih SEMESTA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s