#imbegood Everyday is holiday? – Idealis vs Realita tinggal di Bali

“Bisa ke pantai setiap hari atau ke tempat wisata lainnya. Pokoknya everyday is holiday”

Tahun 2017 tepatnya di bulan Juni, gw memutuskan pindah ke Bali. Selain karena mengikuti orang tua yang telah pensiun, kepindahan gw ke Bali dikarenakan harus menjalani ibadah menikah. Worry gak? pasti! Memulai hidup baru dengan teman-teman baru, lingkungan kerja baru dan status baru itu gak mudah. Catet yes, enggakk mudahhh #engap.

But, it only lasts few months. Selama beberapa bulan, temen gw adalah suami, orang tua, temen-temen kantor dan temen-temen suami. Gw ngerasa kesepian ketika ingin berjulid-julid ria sedangkan i have nobody to share.

Dua hari yang lalu, gw melemparkan sebuah pertanyaan ke follower gw“kalau lo dikasih kesempatan tinggal di Bali, apa ekspektasi kalian?”

And guess whaatt, follower gw menjawab hal-hal yang ada di kepala gw. Ternyata kita samaaa huff. Yuk kita kupassss secara tajam…

  • Everyday is holiday vs Everyday is work-day

Siapa sih yang kalau denger “Bali” gak pengen liburan? Akutu juga mauu gaes. Untuk sebagian wisatawan, Bali si pulau eksotis selalu menawarkan cerita seru sesuai dengan mood kamu hari ini. Kalau kamu ingin healing dan honeymoon, Ubud adalah lokasi yang passs dan dijamin nagih untuk kembali ke Bali.

Nyatanya bagi seseorang yang menjadikan Bali sebagai tempat tinggal, setiap hari ya bekerja. Sama kok seperti di Ibukota tercinta, tapi tetep ada bedanya. Gw sering banget datang ke lokasi meeting beberapa jam lebih awal. Biasanya gw suka eksplor cafe/tempat makan yang belum gw coba, sekedar minum es kelapa di pantai atau mengunjungi tempat wisata yang kebetulan dekat dengan tempat meeting. Kalau dilihat, slogan Everyday is holiday gak sepenuhnya salah, kok, kembali lagi ke konsep awal jika holiday needs money, betul?

  • Dapet jodoh bule
Ini buleku, mana bulemu

Nah ini, beberapa temen gw yang terlalu niat, memutuskan pindah ke Bali hanya untuk mencari pasangan bule. Padahal, kenyataannyaaa, gak sembarang bule bisa di seriusin, loh.

Setiap daerah di Bali, memiliki karakteristik bule tersendiri, misalnya daerah kuta biasanya ditinggali oleh wisatawan asing yang hobi backpacker-an dengan low budget. Kuta juga menawarkan banyak tempat hiburan seperti beach club yang lagi hits. Nah, kebayangkan, kalau ke kuta akan dapet bule seperti apa?

Tapi, beda lagi dengan Canggu. Karakteristik wisatawan asing yang tinggal Canggu, biasanya senang dengan sesuatu yang private dan istilah bule kantoran karena canggu punya banyak co-working space. Co-work space biasanya digunakan para para pekerja asing maupun freelance lokal.

Beda lagi dengan Ubud. Karakteristik wisatawan yang memilih stay di Ubud adalah wisatawan yang senang berolahraga, ketenangan, alam dan biasanya tidak memiliki agenda liburan khusus yang membutuhkan waktu lama untuk berkeliling Bali. Mereka menikmati suasana di penginapan maupun kegiatan di penginapan.

Tapi, itu semua hanya sebagian penilaian orang-orang, kok. Hanya beberapa persen kebenaran dari penilaian tersebut. Sekarang tergantung Anda, mau jodoh “bule” seperti apa?

  • Ke pantai setiap hari

“Kalau di Bali, kepeleset dikit sampai ke pantai” kata netijen budiman. Gak sepenuhnya salah sih. Gw gak perlulah ya mention pantai apa yang ada di Bali, toh netijen jauh lebih update daripada gw.

Awal tinggal di Bali, hampir setiap hari gw ke pantai di malam hari. Menikmati suara ombak, angin sepoi-sepoi sambil makan jagung bakar itu gak ada yang ngalahin, tjoy. Lo cukup bayar Rp 1.000 untuk biaya parkir dan Rp 5.000 untuk jagung bakar, lo udah mendapatkan “me time” yang super berkualitas.

Bagi masyarakat Bali, pantai di jadikan sebagai tempat melukat atau pembersihan diri. Dengan mandi di pantai, dipercaya mampu membersihkan segala penyakit medis maupun non medis. Nah kalau weekend, gw sering (nemenin suami) mandi di pantai bareng sama Naca #wwkkw.

  • Jago bahasa inggris

Sejak di Bali, suka gak suka, mau gak mau, harus banget belajar bahasa inggris, karena client yang di hadapi tidak hanya orang lokal, namun orang interlokal (#enggimana?)

Banyak pekerja asing yang memiliki usaha atau bekerja di Bali. Sejauh apapun lo menghindari si bule ini, kelak akan tetap bertemu #CURHAT.

Jadi, lo akan jago pada waktunya, gengks.

  • Sunny day all the time

Jujur, selama di bali, kulit gw terlihat lebih gelap, tapi kulit wajah jauh lebih mulus. Tau gak kenapa? karena di Bali sesungguhnya memang panas tapi minim polusi. Panas di Bali terjadi karena laut yang mengelilingi pulau. Bagi masyarakat Bali, menjaga alam adalah suatu amanah yang wajib dijalankan turun temurun. Mereka sangat menghargai para lelulur dan alam semesta ini. Beruntungah gw yang hidup di antara alam yang segar dan jiwa-jiwa masyarakat yang tenang dan penuh toleransi.

By the way, meksipun Bali panas, tapi bagi para gadis Bali panas itu eksotis. Mereka tetep naik motor pake celana pendek atau hot pants yang ditutupi dengan kain pantai. Jago gak tuh? Gw kalo naik motor harus banget pake jaket, kaos kaki dan sarung tangan.

  • Bebas macet

NAH INI HIGHLIGHT BANGET. Satu jam perjalanan gw di Bali itu bener-bener satu jam perjalanan karena jauhnya. Berbeda dengan Ibukota tercinta, yang satu jam perjalanan untuk jarak tempuh 15 menit. Sesungguhnya, ini lebih kejam daripada Fernando yang mencampakan Rosalinda begitu saja~~

Ada beberapa area yang terkenal macet namun hanya untuk waktu dan musim tertentu. Kuta, Ubud, Seminyak adalah area yang terkenal macet. Ketiga lokasi itu menjadi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, ketiga area tersebut memiliki akses jalan kendaraan yang terbagi oleh area pejalan kaki dan parkir kendaraan, menjadikan area tersebut hanya memiliki akses jalan yang cukup untuk 1 kendaraan saja. Inilah yang menimbulkan kemacetan.

Beberapa penyebab kemacetan di Bali seperti jam pulang kantor, traffic light, area wisatawan, upacara yang menggunakan separuh akses jalan kendaraan, kedatangan presiden, dan sudah itu aja genks karena aku selalu lewat jalan tikus yang gak macet.

  • Buah dan sayur murah

Bali adalah kota seribu upacara dan kebutuhan utama akan upacara ada bunga dan buah. Jadi, harga buah di Bali cukup fluktuatif. Menjelang hari raya, harga buah akan super melejitttt, namun beberapa hari setelah upacara akan kembali normal.

Saya sangat bersyukur di Bali mudah untuk menemukan sayuran organik dan hidroponik. Sebagaian orang memilih untuk membangun usaha ini sehingga konsumen dapat memilih atau bahkan datang langsung ke kebunnya untuk membeli sayuran. Tentunya dengan akses jalan yang tidak macet hehe…

  • Lebih sering ajak anak ke alam

Terfavoritttt dari semuanya adalaahhh Bali punya banyak tempat yang ramah untuk anak-anak bermain di Alam. Ada pantai, sawah, gunung, air terjun dan lainnyaaa, yang bisa dinikmati bersama si kecil. Tentunya dengan jarak tempuh yang tidak jauh dan biaya yang tidak mahal, kesukaan para ibu-ibu #murahmeriah.

  • Always motoran

Meakipun Bali terkenal fanas, tapi itu gak menyurutkan gw untuk bermotoran syelalu~~Bukan karena gw gak mampu buat beli mobil #koksombong, melainkan karena Bali adalah kota yang nyaman untuk di eksplor dengan motor. Anti macet dan super selap selip, menjadi motor sebagai sahabat setia para wisatawan. Sayangkan, kalau kita pergi ke tempat wisata yang sejuk tapi seluruh tubuh kita tidak merasakan kesejukan itu?

  • Syurga belanja

Kalau dulu, tanah abang menjadi syurga belanja, sekarang ada Bali yang dimana-mana tempat be-lan-ja! Dan penyakit wanita suka kampuh dikala melihat daster, blouse dan teman seperjuangannya di jual dengan harga murah. Jadi, keinginan untuk membeli barang branded musnah ketika gw memiliki pilihan lain untuk membeli pakaian dengan harga lebih murah dan kualitas yang mirip.

Nah itu tadi Ekspektasi vs Realitas yang gw alami selama gw tinggal di Bali. Ini versi gw, belum tentu versi orang lain sama. Setiap orang memiliki cara berfikir dan menikmati hidup yang berbeda. Intinya, nikmati apa yang didepan mata sebelum semuanya hilang, betul?

3 respons untuk โ€˜#imbegood Everyday is holiday? – Idealis vs Realita tinggal di Baliโ€™

Tinggalkan Balasan ke Farah Salsabila Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s